Sebongkah Rasa

Sebongkah rasa menghiasi hati
Memberikan warna pada hitam yang berkeruh
Menggerakan sendi-sendi yang melemah
Mencerahkan tapi seringkali menyisakan kegundahan
Ia menguat karena engkau memupuknya
Hingga kau tak lagi mengerti apa itu rasionalitas
Semua tentangnya indah dalam pandanganmu
Rasa itu memang anugerah
Allah Maha Mengerti hambaNya
Ia menciptakan rasa itu agar hati senantiasa hidup
Tapi sebongkah rasa yang tak terkendali…
Hanya akan menyisakan luka dan kesengsaraan
Menjerumuskan kita pada hal yang mencelakakan kita dalam pengadilanNya
Allah yang menciptakan maka kepadaNya kita meminta terapi
Cinta yang benar kala terkendali dalam batasan syariat

Leave a comment »

Sebuah episode kekerasan Aparat

Seperti biasa aku melewati jalan ini ketika hendak ke kampus. Jalan yang penuh sesak…jalan yang menjadi pusat mencari penghasilan bagi sejumlah profesi dari pengamen, pedagang, dan supir angkot. Di sini pula aku menemukan ekspresi wajah beraneka. Aku menikmati ekspresi wajah mereka sebagai penguat diri untuk dapat bertahan..untuk terus berjuang menggapai mimpi. Banyak hal yang pada akhirnya menghantarkanku pada tingkat kesyukuran kala melihat mereka. Sejenak ada gurat kasihan…bukan ..bukan kasihan tepatnya adalah terharu dengan sikap kepahlawanan mereka dalam menghidupi rumah tangga.

Aku kala itu yang dalam kondisi lelah bercampur jengkel karena kereta yang aku naiki mengalami gangguan sehingga mengalami keterlambatan harus mengambil alternative lain menuju kampus ..maklum saat itu aku ada janji. Akupun bergegas mencari angkot. Kurasakan kakiku mulai pegal-pegal…kubiarkan ia berselonjor dalam angkot. Aku sungguh menikmati perjalananku.

Aku teringat kalau aku harus memberikan kabar akan keterlambatanku. Kubuka tasku dan kuambil hpku. Sejenak aku serius mengetik beberapa kata dan kukirimkan pada sahabatku. Mataku menatap ke sekililing…aku mulai memasuki arena itu…arena yang ramai. Hatiku senang karena itu artinya aku tinggal naik satu angkot lagi untuk sampai ke kampusku. Tapi tiba-tiba aku menangkap adegan yang membuat darahku mendidih. Sebuah sikap yang tidak layak ditampilkan oleh seseorang yang mengaku sebagai abdi Negara. Aku melihat seorang polisi yang kala itu sedang menaiki kendaraan bermotor, di depannya ada seorang penjual pisang membawa pisang dengan cara di pikul. Bapak penjual pisang itu akan belok sehingga mengenai motor depan polisi. Polisi itu marah dengan mengambil beberapa pisang dan melemparkannya pada penjual pisang tersebut. Masih terekam jelas bagaimana ekspresi kemarahan sang polisi ..aku sedih karena aku hanya bias menatap tajam sang polisi dari dalam angkot tanpa bisa melakukan tindakan untuk sang penjual pisang. Sang penjual pisang yang secara umur lebih tua dari sang polisi tampak pasrah menerima perlakuan sang polisi. Dan itu membuatku semakin miris.

Kalau begini”Masih adakah keadilan di negeriku ini? Kenapa rakyat kecil selalu menjadi korban?Bukankah mereka juga berhak untuk dihargai?bukankah mereka juga berhak mendapat perlakuan yang manusiawi?kalaupun mereka melakukan kesalahan..bukankah ada cara yang lebih baik untuk mengingatkan. Sahabat,….mungkin kalian juga sama sepertiku…sama bosan melihat ketidakadilan yang mewarnai negeri ini…jenuh melihat tingkah laku para koruptor dan para petinggi bangsa yang jauh dari etika…tapi kawan semoga kebosanan ini…kerinduan melihat Negara yang adil dan sejahtera mendorong kita untuk tetap berada dalam idealism itu dimanapun nanti kita ditempatkan. Semoga kita bukan menjadi orang-orang yang menambah jumlah para koruptor atau para aparat Negara yang bejat.

Leave a comment »

Kaukah Sosok itu Saudariku…

Hari Rabu pukul 14.30 saya melakukan wawancara dengan salah satu Anggota DPRD Depok dari Komisi Kesejahteraan Rakyat untuk bertanya mengenai pendidikan di Depok untuk keperluan skripsi. Nama Beliau adalah Ibu Sri Rahayu-Istri dari Menteri Komunikasi dan Informasi-. Sungguh senang bisa mengenal Beliau walau hanya berinteraksi dalam hitungan menit. Sosok Beliau mampu membuat hatiku bergetar dan mendorongku untuk menulis. Keramahan yang ditunjukkan membuatku nyaman dan itu sangat membantu dalam kelancaran proses wawancara. Sosok yang keibuan, setiap kata yang dikeluarkan menyiratkan ketinggian ilmu, luasnya pengetahuan mengenai kondisi masyarakat menggambarkan kepedulian yang cukup tinggi terhadap realitas masyarakat, kiprahnya dalam dunia politik menunjukkan bahwa Beliau menginginkan adanya perubahan dengan menjadikan dirinya sebagai agen perubahan tersebut. Mungkin banyak kalangan yang akan menganggap negatif terhadap mereka yang beraktivitas dalam dunia politik karena realitas di Indonesia banyak dari mereka yang memanfaatkan power untuk dirinya tapi aku tak menangkap itu dari Beliau. Salah satu indikator yang secara langsung kulihat adalah Beliau tidak mau menerima imbalan selagi kerja Beliau belumlah optimal. Yah…ini sekedar penilaian subjektif saya..dan bukan ni yang terpenting.
Hm..rasanya tak salah jika ada yang mengatakan “Di balik lelaki yang hebat terdapat wanita yang hebat pula”. Kita dapat mengambil contoh dari wanita-wanita yang mendampingi Rasulullah dan Para Sahabat yang tak kalah untuk dijadikan tauladan. Kita tentu paham bagaimana kondisi pada awal mula persebaran Islam dimana terjadi banyak pertentangan dan kedzoliman yang bertubi-tubi terhadap mereka yang mempercayai kebenaran Islam. Walau demikian perkembangan Islam dapat dikatakan cukup pesat buktinya saat ini kita dapat merasakan cahaya tersebut dan menjalankan ibadah dengan tenang. Ini tentu saja tidak terlepas dari adanya pertolongan dari Allah dan ketangguhan para pengusungnya.
Ibunda kita Bunda Khadijah binti Khuwalid adalah sesosok yang sarat hikmah. Beliau adalah orang pertama yang meyakini kebenaran ajaran yang dibawa Rasulullah dan selalu setia mendampingi Rasulullah. Menenangkan dikala hati suaminya gundah, meyakinkan manakala muncul keraguan dalam diri suaminya. Beliau yang membantu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengibarkan bendera Islam, bersama Rasulullah sebagai angkatan pertama. Dengan penuh semangat, Khadijah turut berjihad dan berjuang, mengorbankan harta, jiwa, dan berani menentang kejahilan kaumnya. Di samping itu Beliau adalah sosok wanita yang sukses dalam hal bisnis. Luasnya jaringan menandakan bahwa Beliau adalah sesosok yang ramah dan sangat menjaga silaturahmi.
Sosok lain adalah Aisyah binti Abu Bakar. Aisyah memiliki kecerdasan yang luar biasa dan hal itulah yang membuat Rasulullah sangat mencintainya. Aisyah melalui hari-harinya dengan siraman ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga ribuan hadist beliau hafal. Beliau juga ahli dalam ilmu faraid (warisan dan ilmu obat-obatan). Beliau yang senantiasa menjaga kesucian dan dengan senang hati mendampingi suami di medan jihad. Kita juga dapat mengambil hikmah dari sikap Saudah binti Zam’ah yang unggul dalam ketabaah dan memiliki perasaan yang baik yang ditunjukkan dari keridhoan Beliau menyerahkan harinya bersama Rasulullah kepada Aisyah. Dan masing banyak contoh wanita-wanita hebat lainnya.
Saudaraku….selamanya mungkin kita tidak akan pernah mampu manyamai mereka tapi setidak-tidaknya dengan kita mentauladani mereka maka itu bukti bahwa kita ingin dapat seperti mereka. Kemauan yang besar untuk memperbaiki diri sebagai elemen dasar sebelum kita mampu merubah orang lain sangatlah penting. Maka jangan pernah berhenti untuk memperbaiki diri. Benarlah bahwa istiqomah tidaklah mudah apalagi ketika dibenturkan pada situasi yang sangat tidak mendukung..tapi itu dapat teratasi kala hati selalu dekat denganNya..kala hanya cinta Rabb yang kita damba. Tetaplah menjadi sosok yang memiliki keseimbangan dalam ranah domestik dan sosial. Sesosok yang mengikhlaskan diri dalam ranah amal di masyarakat tapi tak melupakan peran di ranah domestik. Sesosok muslimah yang paham tentang apa yang menjadi hak dan kewajiban. Jika itu yang ada pada dirimu maka bersiaplah untuk menjadi pendamping dari lelaki hebat……

Semoga Bermanfaat
Menyayangimu Saudariku……

Leave a comment »

The Designer ku

Kemilau memancar
Bak sinar surya yang menembus kegelapan
Meruak dalam keramahan
Menyeringai dalam lembut hati
Selang demi selang terlalui
Gambaran rasa yang sangat hebat kau rasa
Memenuhi ruang kalbu
Melukiskan aneka rasa dan cinta
Berpadu dalam detak keteraturan
Melesat…jauh…sejauh kau bisa
Hempaskan rasa yang mencipta percikan
Hingga luka hanyalah sebuah kenangan
Cinta dan kasih bersenandung
Dengar…dengarlah dan rekamlah
Pancarkan dalam sapa, gerak, dan kesendirian
Dendang…dan dendangkan dalam iringan gendering
Menghiasi hari-harimu
Agar waktumu bertabur bunga

Untukmu sahabatku…
Menangislah di bahuku
Ku di sini untukmu………..

Leave a comment »

Sekelumit hikmah

Hikmah itu barang hilang seorang mukmin, di manapun ia menemukannya maka ia paling berhak mendapatkannya.(HR. Tirmidzi)

Gerimis mengguyur di senja hari…lambat laun alirannya makin deras. Sunyi….dan hanya sunyi….

Gadis itu termangu menatap hujan yang terus mengguyur…Sorot matanya menyiratkan keingintahuan akan banyak hal. Aura mukanya seakan asyik mengikuti alunan kesenduan yang tercipta oleh perubahan alam. Sejenak dia melepas tawa, sejenak pula kebekuan menemani. Begitulah Ia menghabiskan waktunya di senja itu.
Di sudut lain kuperhatikannya. Sungguh apa yang kulihat mengajakku untuk mencari lebih dalam mengenai gadis itu. Seorang gadis yang manis dengan balutan kain kerudung yang menjulur sampai dada. Baju lebar yang selalu di kenakan menandakan bahwa dia adalah seorang yang sangat menjaga nilai kesopanan dan menjalankan apa yang diyakininya sebagai suatu kebenaran. Ah…tapi aku ga mau berspekulasi. Hal ini akan menjadi salah satu pertanyaan yang kan kucari tahu dari gadis tersebut. Rasa ingin tahu itu begitu membuncah dalam dadaku. Dalam diam aku memperhatikannya, mendekati teman-temannya dan menanyakan mengenai gadis itu. Tapi, tak kuperoleh kepuasan maka kuputuskan untuk menjadi temannya. Dan kesempatan itu hadir. Kita dipertemukan dalam sebuah kajian yang diadakan oleh organisasi Islam di kotaku.
————————-
Gadis itu punya nama yang unik yaitu Tembang Lestari. Dia sendiri tidak tahu kenapa orangtuanya menyematkan nama itu untuknya. Hm, aku hanya menebak mungkin orangtuanya memberikan nama itu karena suka sekali dengan nyanyian(tembang) maka mereka ingin anaknya menjadi salah satu orang yang melestarikan nyanyian apapun jenisnya. He…tapi itu hanya tebakan saya jadi bisa benar bisa juga salah. Lambat laun kita mulai akrab. Keakraban itu berbuah rasa saling percaya dan keterbukaan. Ini tercipta tidak lain karena kita ternyata memiliki banyak persamaan, mulai dari prinsip hidup, kebiasaan, buku-buku bacaan, koleksi lagu, dll. Pengalaman berinteraksi dengannya sungguh mengasyikan. Aku bersyukur bisa mengenalnya dan menjadi salah satu temannya. Arus hidup yang dia lewati tidaklah mudah tapi dia tetap dalam ketegaran dan itulah yang membuatku salut. Dalam kesempatan ini akan coba kuukir tentangnya walau aku tak yakin bisa mendeskripsikannya secara sempurna tapi aku ingin tetap mencobanya.
———————–
“Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholihah.”(Diriwayatkan Muslim, Ahmad, dan Nasa’i)
Itulah hadist yang selalu kuingat kalau aku mengenangnya. Tahukah engkau kenapa aku mengatakan begitu? Banyak indikator yang akhirnya membuatku berkata seperti itu. Tari- nama panggilan gadis itu- terlahir dalam keluarga yang katakanlah cukup berada. Sejak kecil apa yang menjadi keinginannya terpenuhi. Dia pun tumbuh menjadi anak yang bisa dikatakan tomboy. Penanaman nilai agama minim. Namun ada yang luput dari orangtuanya yaitu berkaitan dengan kasih sayang yang sesungguhnya. Hm, memang orangtuanya selalu memenuhi kebutuhannya tapi bukan itu yang sebenarnya sangat dia butuhkan. Dia layaknya anak yang lain yang membutuhkan perhatian, butuh untuk dimengerti, butuh untuk dihargai bukan hanya sekedar disuapin lalu ditinggalkan begitu saja. Hal inilah yang seringkali dilakukan oleh para orangtua. Para orangtua menganggap bahwa ketika anak dipenuhi secara materi maka itu sudah cukup padahal dalam perkembangan anak yang paling penting adalah bagaimana menanamkan nilai-nilai yang dibutuhkan anak dalam mengarungi kehidupan baik nilai agama maupun nilai-nilai lain yang ada dalam masyarakat. Suasana yang harmonis antar anggota keluarga yang satu dengan yang lain sangat dibutuhkan untuk menunjang perkembangan anak. Lingkungan keluarga yang individualis telah menjadikannya sebagai anak yang masa bodoh, dia tidak nyaman berada di rumah, kepedulian terhadap sesamapun minim. Coba bayangkan ketika semua orangtua seperti ini dalam mendidik anak-anaknya apalah jadinya Negeri ini seiring putaran waktu. Namun, sikap dan pemikirannya mengalami perubahan ketika Ia mengiinjakkan kakinya di bangku SMA. Keterlibatannya dalam kajian-kajian keislaman lambat laun merubahnya, ditambah dengan teman sepermainan yang juga memiliki semangat yang sama dalam memperbaiki kepribadian dan tingkat pemahaman terhadap Islam. Keseriusannya dengan agama yang diyakini dimulai dengan kemauan kuat untuk mengenakkan pakaian takwa. Hidayah yang Allah berikan untuknya menggetarkanku dan akupun berdoa dalam hati agar Allah pun berkenan memberikan hidayah itu kepadaku dan kepada keluargaku.
Perubahan karakter makin terlihat ketika dia berusaha merubah budaya yang ada dalam keluarga. Ini tidaklah mudah. Sungguh ini tidaklah mudah mengingat karakter saudara-saudaranya yang juga cuek dan Ayah yang keras kepala tapi dia tetap berusaha. Dia mengingat satu per satu tanggal lahir dari saudara-saudaranya dan ketika saat itu tiba dia tak lupa untuk mengirimkan ucapan diiringi doa. Dia berusaha membiasakan untuk berkirim kabar dan bertanya hal-hal lain. Itu dilakukannya tidak hanya untuk saudara kandung tetapi juga untuk teman-temannya. Dia rela mengorbankan waktunya sejenak untuk melakukan hal-hal seperti di atas. Perhatian dan kepedulian yang tinggi terhadap teman-temannya telah mampu mengembalikan salah satu temannya yang hampir saja terjerumus dalam hal-hal yang di luar batas ketentuan-Nya. Kucoba bertanya “apa yang mendorongnya untuk melakukan itu”, dengan seulas senyum dia menjawab “saya hanya berusaha menjalankan apa yang Rasulullah perintahkan”, kemudian dia memaparkan hadist-hadist untuk menguatkan jawabannya, diantaranya
Rasulullah SAW bersabda “ Tidaklah seorang hamba beriman hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”(HR. Bukhari dan Muslim).
Beliau juga bersabda,
“Orang-Orang mukmin dalam menjalin hubungan kasih sayang dan cinta itu bagaikan satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh mengeluh, maka anggota tubuh yang lain akan ikut menderita susah tidur dan demam.(HR. Bukhari dan Muslim)
Sabda Beliau yang lain:
Seorang mukmin bagi mukmin lainnya semisal bangunan yang saling mengukuhkan antar sesamanya.(HR.bukhari dab Muslim)
Di kesempatan lain Beliau juga bersabda:
“Janganlah kalian saling mendeki , saling membenci, saling memutuskan(hubungan), dan jadilah kalian hamba Allah yang besaudara.”(HR.bukhari dan Malik)
Tanpa sadar air mataku mengalir. Kebeningan hatinya kembali menggetarkanku. Makin lekat kutatap wajahnya dan kutemukan keteduhan. Tidak ada hal lain yang kulakukan saat itu selain memeluknya dan kukatakan bahwa aku mencintainya karena Allah. Dia pun membalas pelukanku dan dengan lembut dia berucap bahwa aku pun bisa melakukannya. Dia kembali menguatkanku dan mengingatkan bahwa kita harus sama-sama istiqomah dalam memegang nilai-nilai Islam yang telah kita pelajari dan terus belajar karena Ilmu Islam begitu luas, masih banyak hal yang belum kita pelajari. Selain itu, Dia juga mengatakan bahwa kita harus tetap menebar kebaikan , menunjukkan bahwa Islam itu indah dan mencintai keindahan, mengajak masyarakat untuk kembali kepada Allah dan Islam. Sungguh tangisku makin mengeras. Kata-katanya sebagai penutup pembicaraan kita dikala itu adalah firman Allah berikut ini:
Dan, Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa.(Yunus: 56-57)
Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat(pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa.(An-Nahl:30).
Selang dua tahun kita terpisah oleh jarak. Kita sama-sama melanjutkan belajar di luar kota tapi kita tak sama. Kita memasuki Universitas sesuai dengan keinginan masing-masing. Alhamdulillah kita dapat masuk di Universitas yang kita cita-citakan sebelumnya. Kegembiraan kami saat mendengar kalau kita diterima sungguh mengharu biru dalam dada, tak lupa sujud syukur kita lakukan. Ada rasa sedih kala berpisah dengannya tapi kehidupan harus terus bergulir. Sebelum berpisah kembali kita menguatkan azzam bahwa bagaimanapun kondisi lingkungan belajar nanti, kita harus tetap istiqomah dalam menjaga prinsip. Aku hanya mengangguk saat itu. Seiring waktu kita menjaga silaturahmi dengan berkirim kabar dan tausiyah. Sungguh ukhti, aku selalu meridukanmu dan merindukan cerita kita. Kebersamaan yang telah kita lalui akan selalu kuingat. Kebersamaan itu yang buatku bertahan dalam situasi sesulit apapun. Aku ingin pulang membawa kesuksesan. Di sinipun aku mendapatkan teman-teman yang luar biasa dan aku yakin kau di sanapun mendapatkan hal sama.
Beberapa bulan kemudian kudengar kabar darimu. Kabar yang membuat air mata ini menetes, badan ini tiba-tiba melemas. Hanya satu inginku saat itu yaitu menemuimu tapi itu tak mungkin kulakukan karena aku harus menjalani proses belajar. Kudengar bahwa engkau tak lagi belajar di Universitas yang engkau impi-impikan. Sesuatu yang kompleks telah terjadi hingga engkau merelakan untuk berhenti belajar di tempat impian. Ini bukan sekedar permasalahan harta. Sungguh bukan itu. Ukhti…lagi-lagi Engkau menunjukkan kemuliyaan hatimu. Sungguh jika aku yang berada di pihakmu, aku ga yakin dapat mengambil keputusan sebijak dirimu. Mungkin saat itu aku hanya bisa menghujat dan mengambil sikap egois dengan tetap bertahan belajar di tempat impian. Aku tidak akan mempedulikan kondisi keluarga, tapi tidak dengan engkau wahai ukhti!Kembali engkau mengambil sikap merelakan apa yang disuka untuk kebaikan orang lain. Di usiamu yang masih dini Engkau sudah mengalami cobaan ini. Ketegaranmu bak gunung yang menjulang angkuh, tak goyah walau angin bergemuruh kencang, tak peduli walau hujan mengguyur deras. Dan aku bahagia melihatmu begitu. Aku bahagia karena di kondisi sesempit apapun senyummu masih merekah untukku, tawamu masih kudengar. Dan tak kutemukan beda dari sikapmu. Sungguh aku bahagia karena itu.
Ukhti yakinlah bahwa Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya. Itu adalah janji-Nya maka baik engkau dan aku haruslah yakin seyakin-yakinnya bahwa itu adalah benar. Ukhti…kita harus menghadapi setiap gelombang dengan sabar karena dengan sabar maka kebahagiaan akan tetap kita rasakan.

Duhai engkau yang berhati muliya
Siapakah gerangan yang kan memetikmu
Amatlah beruntungnya dia mendapatkan engkau ukhti!
Tentu haruslah orang yang berhati muliya pula
Itu doaku untukmu Ukhti
Bersama kita pegang cita-cita
Dalam langkah yang dilalui
Tak bolehlah berhenti
Hingga nyawa terlepas dari badan
Kita…ya..kita kan terus menuntut ilmu
Hingga cinta-Nya yg didapat….

 Teruntuk sahabatku…..aku menyayangimu. Tetaplah dalam ketegaran karena kita luar biasa!!!!

Comments (7) »

Luapan…..

Bete……

Sebel….

Di saat dibutuhkan kenapa tak menjalankan peran
Kalau tahu peran lakukan
Apakah….hanya dengan diingatkan baru bertindak
Lalu apa jadinya mimpi….

Dia akan lapuk dimakan usia
Kikis tanpa ada proses pemetikan
Layu tanpa ada proses perawatan

Huh…..dirimu
Masih bisanya terdiam tanpa ada ekpresi bersalah
Tidakkah kau tahu betapa banyak yg butuhkanmu
Akankah membiarkan “mereka”
Dalam penantian panjang akan sebuah pemenuhan hak…?

Cobalah lihat…..
Mereka masih dalam posisi yang sama
“mempercayaimu…”
Telinga mereka seakan tuli
Mata mereka seakan buta
Padahal waktumu dihabiskan dengan”termangu”
Tertawa dalam balutan kemiskinan dan kebodohan
Kepercayaan berbalaskan kebohongan

Comments (2) »

Muhasabah Diri

Ada apa denganku?
Apa kabar keimanan.?
Aku bertanya padamu…wahai hati
Kenapa kau membisu?
Tidakkah kau dengar rongronganku…
Apa dindingmu begitu keras
Hingga jeritanku tak menggetarkanmu…
Kau dulu…yang mengarahkan tentang apa yang baik yang harus kulakukan
Kau dulu…yang membisikkanku untuk tidak melakukan hal bodoh yang tak diridhoi-Nya
Kau dulu..yang menenangkanku bahwa”Allah tak kan memberikan ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya”
Kau dulu menjagaku……..
Kenapa kau sekarang acuh padaku…
Kenapa kau membiarkanku….
Dan karena bisumu aku tak tahu apakah yang kulakukan salah
Aku menyelami diri agar aku mengerti kenapa kau begitu….
Ternyata tak kunjung kutemukan….
Mungkin…karena terlalu banyak dosa yang kulakukan
Hingga noda tebal pun tak mampu kumelihat..
Tapi kini sedikit kumenemukan….
Karena ada dia, sahabat yang mengingatkan….
Agar aku kembali mendekat pada-Nya

Tertampar…jelas aku tertampar
Dan bersyukur…karena tamparan itu menyadarkanku
Tak cukup hanya sadar………dan terlarut dalam penyesalan..
Tapi bagaimana aku bertidak selanjutnya…
Agar engkau..wahai hatiku
Kembali menjalankan peranmu sebagai filter…
Yang bening karena ada ridho-Nya
Sungguh aku meminta maaf
Karena telah membuat dindingmu menjadi beku akibat ulahku…..
Degarkan penyesalanku…..
Dan bisikkan kembali padaku tentang apa yang harus kulakukan
Agar aku mendapatkan ridho-Nya
Dan keselamatan di dunia dan di akherat

Teman….mungkin kalian sering mendengar bahwasanya ketika kau ragu terhadap sesuatu maka tanyakan pada hatimu. Kedudukan hati memanglah sangat penting , hati yang sering menjadi tolak ukur keimanan seseorang. Hati pulalah yang memberi rasa tak tenang kala kita bertindak sesuatu yang tak diridhoi-Nya. Lalu bagaimana kalau hati kita tak lagi menjalankan perannya…baik kebaikan atau keburukan yang kita lakukan rasanya tak ada beda. Semua rasanya baik dalam pandangan kita..boleh jadi semua itu terjadi karena kita telah terbiasa berbuat keburukan. Boleh jadi kita sendiri yang membuat dinding dalam hati kita hingga dia tak lagi sensitive. Untuk itu, cobalah kita mengevaluasi diri-diri kita agar hati kita tetap bening….dan dia menjadi partner kita dalam menjalankan kewajiban kita terhadap Tuhan yang telah menciptakan kita..!hingga setiap perilaku kita berhiaskan keberkahan dan bukankah itu yang kita inginkan sebagai bekalan kita dalam peradilan-Nya kelak?

Sungguh seseorang dinilai seperti apa dia pada akhirnya bukan seperti apa dia sekarang. Semoga kita tetap dapat menjadi tauladan dalam setiap perilaku kita sehingga tidak akan ada label-label munafik ataupun label-label negatif yang disematkan ke kita. Dan semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang tetap mengharumkan nama dakwah bukan malah menghancurkan dakwah yang dibangun sejak lama, menghapus mimpi-mimpi orang-orang terdahulu hanya dengan keegoan dan kecerobohan kita dalam bersikap…..

Comments (8) »