Sebuah episode kekerasan Aparat

Seperti biasa aku melewati jalan ini ketika hendak ke kampus. Jalan yang penuh sesak…jalan yang menjadi pusat mencari penghasilan bagi sejumlah profesi dari pengamen, pedagang, dan supir angkot. Di sini pula aku menemukan ekspresi wajah beraneka. Aku menikmati ekspresi wajah mereka sebagai penguat diri untuk dapat bertahan..untuk terus berjuang menggapai mimpi. Banyak hal yang pada akhirnya menghantarkanku pada tingkat kesyukuran kala melihat mereka. Sejenak ada gurat kasihan…bukan ..bukan kasihan tepatnya adalah terharu dengan sikap kepahlawanan mereka dalam menghidupi rumah tangga.

Aku kala itu yang dalam kondisi lelah bercampur jengkel karena kereta yang aku naiki mengalami gangguan sehingga mengalami keterlambatan harus mengambil alternative lain menuju kampus ..maklum saat itu aku ada janji. Akupun bergegas mencari angkot. Kurasakan kakiku mulai pegal-pegal…kubiarkan ia berselonjor dalam angkot. Aku sungguh menikmati perjalananku.

Aku teringat kalau aku harus memberikan kabar akan keterlambatanku. Kubuka tasku dan kuambil hpku. Sejenak aku serius mengetik beberapa kata dan kukirimkan pada sahabatku. Mataku menatap ke sekililing…aku mulai memasuki arena itu…arena yang ramai. Hatiku senang karena itu artinya aku tinggal naik satu angkot lagi untuk sampai ke kampusku. Tapi tiba-tiba aku menangkap adegan yang membuat darahku mendidih. Sebuah sikap yang tidak layak ditampilkan oleh seseorang yang mengaku sebagai abdi Negara. Aku melihat seorang polisi yang kala itu sedang menaiki kendaraan bermotor, di depannya ada seorang penjual pisang membawa pisang dengan cara di pikul. Bapak penjual pisang itu akan belok sehingga mengenai motor depan polisi. Polisi itu marah dengan mengambil beberapa pisang dan melemparkannya pada penjual pisang tersebut. Masih terekam jelas bagaimana ekspresi kemarahan sang polisi ..aku sedih karena aku hanya bias menatap tajam sang polisi dari dalam angkot tanpa bisa melakukan tindakan untuk sang penjual pisang. Sang penjual pisang yang secara umur lebih tua dari sang polisi tampak pasrah menerima perlakuan sang polisi. Dan itu membuatku semakin miris.

Kalau begini”Masih adakah keadilan di negeriku ini? Kenapa rakyat kecil selalu menjadi korban?Bukankah mereka juga berhak untuk dihargai?bukankah mereka juga berhak mendapat perlakuan yang manusiawi?kalaupun mereka melakukan kesalahan..bukankah ada cara yang lebih baik untuk mengingatkan. Sahabat,….mungkin kalian juga sama sepertiku…sama bosan melihat ketidakadilan yang mewarnai negeri ini…jenuh melihat tingkah laku para koruptor dan para petinggi bangsa yang jauh dari etika…tapi kawan semoga kebosanan ini…kerinduan melihat Negara yang adil dan sejahtera mendorong kita untuk tetap berada dalam idealism itu dimanapun nanti kita ditempatkan. Semoga kita bukan menjadi orang-orang yang menambah jumlah para koruptor atau para aparat Negara yang bejat.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.