Sekelumit hikmah

Hikmah itu barang hilang seorang mukmin, di manapun ia menemukannya maka ia paling berhak mendapatkannya.(HR. Tirmidzi)

Gerimis mengguyur di senja hari…lambat laun alirannya makin deras. Sunyi….dan hanya sunyi….

Gadis itu termangu menatap hujan yang terus mengguyur…Sorot matanya menyiratkan keingintahuan akan banyak hal. Aura mukanya seakan asyik mengikuti alunan kesenduan yang tercipta oleh perubahan alam. Sejenak dia melepas tawa, sejenak pula kebekuan menemani. Begitulah Ia menghabiskan waktunya di senja itu.
Di sudut lain kuperhatikannya. Sungguh apa yang kulihat mengajakku untuk mencari lebih dalam mengenai gadis itu. Seorang gadis yang manis dengan balutan kain kerudung yang menjulur sampai dada. Baju lebar yang selalu di kenakan menandakan bahwa dia adalah seorang yang sangat menjaga nilai kesopanan dan menjalankan apa yang diyakininya sebagai suatu kebenaran. Ah…tapi aku ga mau berspekulasi. Hal ini akan menjadi salah satu pertanyaan yang kan kucari tahu dari gadis tersebut. Rasa ingin tahu itu begitu membuncah dalam dadaku. Dalam diam aku memperhatikannya, mendekati teman-temannya dan menanyakan mengenai gadis itu. Tapi, tak kuperoleh kepuasan maka kuputuskan untuk menjadi temannya. Dan kesempatan itu hadir. Kita dipertemukan dalam sebuah kajian yang diadakan oleh organisasi Islam di kotaku.
————————-
Gadis itu punya nama yang unik yaitu Tembang Lestari. Dia sendiri tidak tahu kenapa orangtuanya menyematkan nama itu untuknya. Hm, aku hanya menebak mungkin orangtuanya memberikan nama itu karena suka sekali dengan nyanyian(tembang) maka mereka ingin anaknya menjadi salah satu orang yang melestarikan nyanyian apapun jenisnya. He…tapi itu hanya tebakan saya jadi bisa benar bisa juga salah. Lambat laun kita mulai akrab. Keakraban itu berbuah rasa saling percaya dan keterbukaan. Ini tercipta tidak lain karena kita ternyata memiliki banyak persamaan, mulai dari prinsip hidup, kebiasaan, buku-buku bacaan, koleksi lagu, dll. Pengalaman berinteraksi dengannya sungguh mengasyikan. Aku bersyukur bisa mengenalnya dan menjadi salah satu temannya. Arus hidup yang dia lewati tidaklah mudah tapi dia tetap dalam ketegaran dan itulah yang membuatku salut. Dalam kesempatan ini akan coba kuukir tentangnya walau aku tak yakin bisa mendeskripsikannya secara sempurna tapi aku ingin tetap mencobanya.
———————–
“Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholihah.”(Diriwayatkan Muslim, Ahmad, dan Nasa’i)
Itulah hadist yang selalu kuingat kalau aku mengenangnya. Tahukah engkau kenapa aku mengatakan begitu? Banyak indikator yang akhirnya membuatku berkata seperti itu. Tari- nama panggilan gadis itu- terlahir dalam keluarga yang katakanlah cukup berada. Sejak kecil apa yang menjadi keinginannya terpenuhi. Dia pun tumbuh menjadi anak yang bisa dikatakan tomboy. Penanaman nilai agama minim. Namun ada yang luput dari orangtuanya yaitu berkaitan dengan kasih sayang yang sesungguhnya. Hm, memang orangtuanya selalu memenuhi kebutuhannya tapi bukan itu yang sebenarnya sangat dia butuhkan. Dia layaknya anak yang lain yang membutuhkan perhatian, butuh untuk dimengerti, butuh untuk dihargai bukan hanya sekedar disuapin lalu ditinggalkan begitu saja. Hal inilah yang seringkali dilakukan oleh para orangtua. Para orangtua menganggap bahwa ketika anak dipenuhi secara materi maka itu sudah cukup padahal dalam perkembangan anak yang paling penting adalah bagaimana menanamkan nilai-nilai yang dibutuhkan anak dalam mengarungi kehidupan baik nilai agama maupun nilai-nilai lain yang ada dalam masyarakat. Suasana yang harmonis antar anggota keluarga yang satu dengan yang lain sangat dibutuhkan untuk menunjang perkembangan anak. Lingkungan keluarga yang individualis telah menjadikannya sebagai anak yang masa bodoh, dia tidak nyaman berada di rumah, kepedulian terhadap sesamapun minim. Coba bayangkan ketika semua orangtua seperti ini dalam mendidik anak-anaknya apalah jadinya Negeri ini seiring putaran waktu. Namun, sikap dan pemikirannya mengalami perubahan ketika Ia mengiinjakkan kakinya di bangku SMA. Keterlibatannya dalam kajian-kajian keislaman lambat laun merubahnya, ditambah dengan teman sepermainan yang juga memiliki semangat yang sama dalam memperbaiki kepribadian dan tingkat pemahaman terhadap Islam. Keseriusannya dengan agama yang diyakini dimulai dengan kemauan kuat untuk mengenakkan pakaian takwa. Hidayah yang Allah berikan untuknya menggetarkanku dan akupun berdoa dalam hati agar Allah pun berkenan memberikan hidayah itu kepadaku dan kepada keluargaku.
Perubahan karakter makin terlihat ketika dia berusaha merubah budaya yang ada dalam keluarga. Ini tidaklah mudah. Sungguh ini tidaklah mudah mengingat karakter saudara-saudaranya yang juga cuek dan Ayah yang keras kepala tapi dia tetap berusaha. Dia mengingat satu per satu tanggal lahir dari saudara-saudaranya dan ketika saat itu tiba dia tak lupa untuk mengirimkan ucapan diiringi doa. Dia berusaha membiasakan untuk berkirim kabar dan bertanya hal-hal lain. Itu dilakukannya tidak hanya untuk saudara kandung tetapi juga untuk teman-temannya. Dia rela mengorbankan waktunya sejenak untuk melakukan hal-hal seperti di atas. Perhatian dan kepedulian yang tinggi terhadap teman-temannya telah mampu mengembalikan salah satu temannya yang hampir saja terjerumus dalam hal-hal yang di luar batas ketentuan-Nya. Kucoba bertanya “apa yang mendorongnya untuk melakukan itu”, dengan seulas senyum dia menjawab “saya hanya berusaha menjalankan apa yang Rasulullah perintahkan”, kemudian dia memaparkan hadist-hadist untuk menguatkan jawabannya, diantaranya
Rasulullah SAW bersabda “ Tidaklah seorang hamba beriman hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”(HR. Bukhari dan Muslim).
Beliau juga bersabda,
“Orang-Orang mukmin dalam menjalin hubungan kasih sayang dan cinta itu bagaikan satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh mengeluh, maka anggota tubuh yang lain akan ikut menderita susah tidur dan demam.(HR. Bukhari dan Muslim)
Sabda Beliau yang lain:
Seorang mukmin bagi mukmin lainnya semisal bangunan yang saling mengukuhkan antar sesamanya.(HR.bukhari dab Muslim)
Di kesempatan lain Beliau juga bersabda:
“Janganlah kalian saling mendeki , saling membenci, saling memutuskan(hubungan), dan jadilah kalian hamba Allah yang besaudara.”(HR.bukhari dan Malik)
Tanpa sadar air mataku mengalir. Kebeningan hatinya kembali menggetarkanku. Makin lekat kutatap wajahnya dan kutemukan keteduhan. Tidak ada hal lain yang kulakukan saat itu selain memeluknya dan kukatakan bahwa aku mencintainya karena Allah. Dia pun membalas pelukanku dan dengan lembut dia berucap bahwa aku pun bisa melakukannya. Dia kembali menguatkanku dan mengingatkan bahwa kita harus sama-sama istiqomah dalam memegang nilai-nilai Islam yang telah kita pelajari dan terus belajar karena Ilmu Islam begitu luas, masih banyak hal yang belum kita pelajari. Selain itu, Dia juga mengatakan bahwa kita harus tetap menebar kebaikan , menunjukkan bahwa Islam itu indah dan mencintai keindahan, mengajak masyarakat untuk kembali kepada Allah dan Islam. Sungguh tangisku makin mengeras. Kata-katanya sebagai penutup pembicaraan kita dikala itu adalah firman Allah berikut ini:
Dan, Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa.(Yunus: 56-57)
Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat(pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa.(An-Nahl:30).
Selang dua tahun kita terpisah oleh jarak. Kita sama-sama melanjutkan belajar di luar kota tapi kita tak sama. Kita memasuki Universitas sesuai dengan keinginan masing-masing. Alhamdulillah kita dapat masuk di Universitas yang kita cita-citakan sebelumnya. Kegembiraan kami saat mendengar kalau kita diterima sungguh mengharu biru dalam dada, tak lupa sujud syukur kita lakukan. Ada rasa sedih kala berpisah dengannya tapi kehidupan harus terus bergulir. Sebelum berpisah kembali kita menguatkan azzam bahwa bagaimanapun kondisi lingkungan belajar nanti, kita harus tetap istiqomah dalam menjaga prinsip. Aku hanya mengangguk saat itu. Seiring waktu kita menjaga silaturahmi dengan berkirim kabar dan tausiyah. Sungguh ukhti, aku selalu meridukanmu dan merindukan cerita kita. Kebersamaan yang telah kita lalui akan selalu kuingat. Kebersamaan itu yang buatku bertahan dalam situasi sesulit apapun. Aku ingin pulang membawa kesuksesan. Di sinipun aku mendapatkan teman-teman yang luar biasa dan aku yakin kau di sanapun mendapatkan hal sama.
Beberapa bulan kemudian kudengar kabar darimu. Kabar yang membuat air mata ini menetes, badan ini tiba-tiba melemas. Hanya satu inginku saat itu yaitu menemuimu tapi itu tak mungkin kulakukan karena aku harus menjalani proses belajar. Kudengar bahwa engkau tak lagi belajar di Universitas yang engkau impi-impikan. Sesuatu yang kompleks telah terjadi hingga engkau merelakan untuk berhenti belajar di tempat impian. Ini bukan sekedar permasalahan harta. Sungguh bukan itu. Ukhti…lagi-lagi Engkau menunjukkan kemuliyaan hatimu. Sungguh jika aku yang berada di pihakmu, aku ga yakin dapat mengambil keputusan sebijak dirimu. Mungkin saat itu aku hanya bisa menghujat dan mengambil sikap egois dengan tetap bertahan belajar di tempat impian. Aku tidak akan mempedulikan kondisi keluarga, tapi tidak dengan engkau wahai ukhti!Kembali engkau mengambil sikap merelakan apa yang disuka untuk kebaikan orang lain. Di usiamu yang masih dini Engkau sudah mengalami cobaan ini. Ketegaranmu bak gunung yang menjulang angkuh, tak goyah walau angin bergemuruh kencang, tak peduli walau hujan mengguyur deras. Dan aku bahagia melihatmu begitu. Aku bahagia karena di kondisi sesempit apapun senyummu masih merekah untukku, tawamu masih kudengar. Dan tak kutemukan beda dari sikapmu. Sungguh aku bahagia karena itu.
Ukhti yakinlah bahwa Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya. Itu adalah janji-Nya maka baik engkau dan aku haruslah yakin seyakin-yakinnya bahwa itu adalah benar. Ukhti…kita harus menghadapi setiap gelombang dengan sabar karena dengan sabar maka kebahagiaan akan tetap kita rasakan.

Duhai engkau yang berhati muliya
Siapakah gerangan yang kan memetikmu
Amatlah beruntungnya dia mendapatkan engkau ukhti!
Tentu haruslah orang yang berhati muliya pula
Itu doaku untukmu Ukhti
Bersama kita pegang cita-cita
Dalam langkah yang dilalui
Tak bolehlah berhenti
Hingga nyawa terlepas dari badan
Kita…ya..kita kan terus menuntut ilmu
Hingga cinta-Nya yg didapat….

 Teruntuk sahabatku…..aku menyayangimu. Tetaplah dalam ketegaran karena kita luar biasa!!!!

Advertisement

7 Responses so far »

  1. 1

    sarah said,

    Subhanallah,,emangnya kenapa dia gak sekolah lagi? tp apapun keputusannya, aku pikir orang seperti dirinya pasti sudah memikirkan +- nya.sampaikan salamku padanya:)
    Sungguh wanita Tangguh sekaligus Anggun (loh,ini nama2 adek kelas kenapa dibawa2,,hehe)

    oia, satu lagi, sekarang tulisanmu makin bagus Mba,,udah kayak novel2 gitu deeh,,ciee,. Lanjutkan!!

  2. 2

    egastory said,

    Sarahku…salammu padanya sudah kusampaikan. Hm…iya dia sudah memikirkan baik-buruknya. Alhamdulillah dia sudah mulai merasakan gantinya dari Allah. InsyaAllah lebih bermanfaat. Ini meyakinkanku bahwa sesuatu yang semata kita niatkan karena Allah pasti akan ada ganti berhiaskan keberkahan.

    Tulisan ini di publish atas ijinnya…..
    Satu lagi: terimakasih dukungan untuk menulis. Engkau juga luar biasa Ukhti!Love you!

  3. 3

    lamya said,

    btul,btul..ega tulisannya makin bagus..^^
    inspiring banget..
    usai membacanya, rasanya tak ada celah untuk mengeluh..sangat malu untuk menyesali kondisi diri sementara banyak orang yg ujiannya jauh lebih berat dibandingkan mya..Ya Allah,semoga kita semua tdk termasuk ke dalam golongan yg kufur akan nikmat-Mu..

  4. 4

    egastory said,

    Amin…

  5. 5

    Ang said,

    nah ya ega.. diam-diam kalo nulis cerita bisa mengalir begini! huuu! aku iri! dan akan marah kalau kau tidak mengajarkanku! okok?! hee ^^v

  6. 6

    ega said,

    Ah..Angg berlebihan….
    Aku hanya ingin belajar seperti kalian…
    Teman-teman AG yg kan tetap di hati walau raga jarang bersua…

  7. 7

    tyas chan said,

    maka..ketika kita berdiri tegar ALLAH akan menguatkannya…dan ALLAH akan memberi jalan yang terbaik…untuk sahabat yang kita sayangi…semoga kita akan menjadi penguat baginya…love u @sahabat 5 menara


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.