Ada apa denganku?
Apa kabar keimanan.?
Aku bertanya padamu…wahai hati
Kenapa kau membisu?
Tidakkah kau dengar rongronganku…
Apa dindingmu begitu keras
Hingga jeritanku tak menggetarkanmu…
Kau dulu…yang mengarahkan tentang apa yang baik yang harus kulakukan
Kau dulu…yang membisikkanku untuk tidak melakukan hal bodoh yang tak diridhoi-Nya
Kau dulu..yang menenangkanku bahwa”Allah tak kan memberikan ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya”
Kau dulu menjagaku……..
Kenapa kau sekarang acuh padaku…
Kenapa kau membiarkanku….
Dan karena bisumu aku tak tahu apakah yang kulakukan salah
Aku menyelami diri agar aku mengerti kenapa kau begitu….
Ternyata tak kunjung kutemukan….
Mungkin…karena terlalu banyak dosa yang kulakukan
Hingga noda tebal pun tak mampu kumelihat..
Tapi kini sedikit kumenemukan….
Karena ada dia, sahabat yang mengingatkan….
Agar aku kembali mendekat pada-Nya
Tertampar…jelas aku tertampar
Dan bersyukur…karena tamparan itu menyadarkanku
Tak cukup hanya sadar………dan terlarut dalam penyesalan..
Tapi bagaimana aku bertidak selanjutnya…
Agar engkau..wahai hatiku
Kembali menjalankan peranmu sebagai filter…
Yang bening karena ada ridho-Nya
Sungguh aku meminta maaf
Karena telah membuat dindingmu menjadi beku akibat ulahku…..
Degarkan penyesalanku…..
Dan bisikkan kembali padaku tentang apa yang harus kulakukan
Agar aku mendapatkan ridho-Nya
Dan keselamatan di dunia dan di akherat
Teman….mungkin kalian sering mendengar bahwasanya ketika kau ragu terhadap sesuatu maka tanyakan pada hatimu. Kedudukan hati memanglah sangat penting , hati yang sering menjadi tolak ukur keimanan seseorang. Hati pulalah yang memberi rasa tak tenang kala kita bertindak sesuatu yang tak diridhoi-Nya. Lalu bagaimana kalau hati kita tak lagi menjalankan perannya…baik kebaikan atau keburukan yang kita lakukan rasanya tak ada beda. Semua rasanya baik dalam pandangan kita..boleh jadi semua itu terjadi karena kita telah terbiasa berbuat keburukan. Boleh jadi kita sendiri yang membuat dinding dalam hati kita hingga dia tak lagi sensitive. Untuk itu, cobalah kita mengevaluasi diri-diri kita agar hati kita tetap bening….dan dia menjadi partner kita dalam menjalankan kewajiban kita terhadap Tuhan yang telah menciptakan kita..!hingga setiap perilaku kita berhiaskan keberkahan dan bukankah itu yang kita inginkan sebagai bekalan kita dalam peradilan-Nya kelak?
Sungguh seseorang dinilai seperti apa dia pada akhirnya bukan seperti apa dia sekarang. Semoga kita tetap dapat menjadi tauladan dalam setiap perilaku kita sehingga tidak akan ada label-label munafik ataupun label-label negatif yang disematkan ke kita. Dan semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang tetap mengharumkan nama dakwah bukan malah menghancurkan dakwah yang dibangun sejak lama, menghapus mimpi-mimpi orang-orang terdahulu hanya dengan keegoan dan kecerobohan kita dalam bersikap…..
sarah said,
December 21, 2009 @ 3:32 am
ega …kritik aku dong..T_T
egastory said,
December 22, 2009 @ 10:50 am
Sarah…ini juga bisa buat kritik kamu..kalau hatimu nyaman-nyaman aja ketika melakukan dosa itu tandanya keimanan kita lagi lemah….
egastory said,
December 22, 2009 @ 10:52 am
sarah…ini cukup buat kritik kita semua.kalau hati kita biasa aja ketika kita melakukan tindakan dosa maka itu tandanya keimanan kita lagi lemah.So, mari bersama mendekat pada-Nya.
lamya said,
December 23, 2009 @ 4:59 am
“Sungguh seseorang dinilai seperti apa dia pada akhirnya bukan seperti apa dia sekarang… ”
very like these words!!
Ang said,
December 28, 2009 @ 7:16 am
jazakillah ukhti, kaulah yang Ia kirimkan ketika aku membutuhkan seseorang untuk mengingatkan aku..
egastory said,
January 4, 2010 @ 10:24 am
Akhwat-Akhwat AG sungguh aku mencintaimu….
Doakanku juga ya…
sarahuaci said,
January 8, 2010 @ 1:33 am
Ega…nulis lagi dong!!kunanti tulisanmu^^
egastory said,
January 8, 2010 @ 11:37 pm
Sarah….hatiku sedang gundah gulana….untuk sebuah keputusan yang penting dalam hidupku..aku belum bisa nulis. Saat ini ingin fokus mendekat pada-Nya semoga mendapatkan jawaban segera!Doakan ya say…