Sendu kurasa suasana di petang hari ini. Gemuruh hujan yang tak kunjung berhenti menambah kesunyian. Dalam suasana itu aku teringat Bapakku. Sesosok lelaki yang cukup bertanggungjawab. Dalam kesendiriannya Beliau berusaha tegar menjalani kehidupan. Aku yang sejak dulu hanya mungkin bisa bertemu dengannya 3 bulan sekali atau 6 bulan sekali bahkan satu tahun sekali menaruh salut pada Beliau. Masih teringat jelas bagaimana Beliau mengajarkan kesederhanaan padaku. Saksi itu semua adalah motor buntutnya yang dibelinya sejak tahun 80-an hingga sekarang Bapakku masih setia menggunakan motor itu. Sebuah motor berwarna merah yang menemani Bapakku menjalani pekerjaan sebagai PNS dalam sebuah Instansi Pemerintah di kotaku. Karirnya pun cukup bagus hingga mendapat piagam penghargaan tapi Beliau masih dalam kesederhanaan. Beliau yang terlahir dari keluarga serba kekurangan tapi tak membuatnya berputus asa. Beliau tetap gigih menuntut ilmu. Sejak kecil sudah terbiasa bekerja keras. Beliau yang harus bangun pagi-pagi buta membantu orang tua untuk kemudian berjalan kaki dengan jarak yang jauh menuju sekolah. Beliau yang setelah pulang sekolah harus membantu orang tua di ladang. Beliau yang rela membiayai adik-adiknya bersekolah. Ya Tuhan sungguh aku sayang padanya. Di balik itu ada hal yang tidak dimilikinya…satu hal yang membuatnya tidak mampu mempertahankan rumah tangga yang dibinanya. Satu hal itu adalah komunikasi. Hm…Beliau memang terkesan otoriter bahkan hingga jurusan yang harus aku ambil pun Beliau yang menentukan. Tapi, itu tak membuatku menyesal. Aku yakin bahwa apa yang dipilih Bapakku itu yang terbaik dan semoga Allah menilai ini sebagai amal ibadah. Ketidakmampuan Beliau dalam berkomunikasi terkadang membuat kami anak-anaknya marah padanya dan tuduhan yang tidak beralasan membuat kami meneteskan air mata tapi…sungguh Allah aku masih sayang padanya dan aku bersyukur memiliki Bapak sepertinya.
Kawan…itu adalah segelumit kisahku. Aku yakin teman-teman juga mencintai orangtua kalian. Melalui ini aku hanya ingin berbagi dan mengajak teman-teman untuk selalu menyayangi kedua orangtua kita. Mereka yang telah bersusah payah membesarkan kita. Mereka yang tak menuntut balas atas apa yang dikorbankan untuk kita. Mungkin teman-teman sempat dibuat kesal oleh mereka tapi apalah artinya itu bukankah kita juga sering membuat mereka kesal? Kita harus paham bahwasanya semakin tua orangtua biasanya akan menunjukkan sikap seperti anak kecil. Saya mengartikan itu sebagai sebuah bentuk sikap yang meminta untuk diperhatikan dan dimengerti. Dalam bukunya Salim A.Fillah mengatakan bahwa semakin tua orang tua mereka akan mulai merasa tidak dibutuhkan oleh dunia dan merasa tidak membutuhkan dunia maka persahabatilah mereka dengan persahabatan yang paling ma’ruf. Tidak dengan menyakiti, atau ketidakmengertian yang kadang menyakiti. Tapi, berilah perhatian dan apresiasi. Itulah bukti cinta kita pada mereka dan jangan lupa untuk mendoakan mereka. Marilah sejenak kita renungkan kalam Illahi dalam surat Al-Israa ayat 23-24:
“ Dan hendaklah kalian berbuat baik kepada ayah-bunda kalian dengan sebaik-baiknya. Jika salah satu diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaan kalian, maka janganlah sekali-kali kalian katakan padanya”UFF…” dan janganlah kalian bentak mereka. Ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Rendahkanlah” Sayap Ketundukan” kalian penuh kasih sayang kepada mereka berdua. Dan ucapkanlah: Rabbi, kasihanilah mereka berdua…..sebagaimana mereka telah mentarbiyahku di waktu kecil.”
Satu hal lagi Kawan yang perlu kita ingat bersama bahwa ketika mereka berusia lanjut maka jangan sekali-kali meletakkan mereka dalam panti jompo. Perbuatan itu sungguh sangat menyakitkan buat mereka. Terlalu sibukkah kita hingga tega membiarkan mereka dalam pengasuhan orang lain. Pengasuhan yang belum tentu baik. Mereka pasti akan merasa kesepian dan merasa bahwa anak-anaknya tak mengasihi. Dan hari-hari akhir mereka hanya akan dipenuhi oleh kesedihan. Itukah yang teman-teman harapkan? Ga kan? Maka rawatlah mereka denga tangan kita sendiri….semoga kita termasuk ke dalam golongan anak yang berbakti.Amin.
Tuhan…..
Sampaikan sayangku padanya
Agar jarak yang memisah
Tak membuat kami jauh
Tuhan….
Dengarkan doaku
Agar kebaikan untuk mereka dan untukku
Hingga hidup kami berbalut ridhoMu
lamya said,
November 22, 2009 @ 11:31 am
Ega..jadi malu nih ><..bahkan kesungguhan kita berbuat baik kepada mereka ngga akan bisa menyamai kasih sayang dan jasa yg mereka berikan pada kita!kalau di surat Al-Isra, perintah birrul walidain diucapkan setelah perintah beribadah pada Allah..masya Allah, betapa berartinya orang tua..
jazakillah y ukh,tausiyahnya..makasih udah menjadi uswah.Sebenarnya mya lah yg banyak bljr dr ega.barakallahu laki
egastory said,
November 23, 2009 @ 2:56 am
he…kita sama-sama megambil hikmah dari masing-masing kita. Semoga dengan begitu kita bisa menutup celah kekurangan dan meminimilasir ketidaksempurnaan. Ukh…inget ya program baca buku kita. Aku serius lho…!!!untuk generasi yang lebih baik!
sarah said,
November 30, 2009 @ 6:58 am
egaaaaa….bapakmu bapakku
..kita kan sodara,,nanti klo aku nikah sm anti, kau juga boleh memiliki anti…
komen gak jelas,,maaf ya
egastory said,
December 16, 2009 @ 8:08 am
ya sarah bukan hanya bapakku -bapakmu, punyaku-punyamu kan..?jadi kalau ada duit bagi ya!he….